Surga Itu Bernama Balabalakang



Sinar mentari pagi menyinari alam nusantara, tepat pada waktu itu adalah libur panjang. Tiba waktu saya untuk mengimplementasikan mimpi saya untuk menyapa surga tersembunyi di Selat Makassar. Sebuah selat yang membelah Kalimantan dan Sulawesi. Persiapan yang begitu matang bagi saya, tak lupa pula alat snorkeling sebagai peralatan yang tidak bisa saya lupakan. Tepat pukul 10 siang, bunyi mesin kapal yang tidak begitu besar berbunyi. Buritan kapal pun memberikan salam selamat tinggal dan sampai jumpa ke sisi dermaga Manggar Balikpapan, Kaltim. Terik matahari yang sangat menyengat tidak membuat saya untuk mengeluh.

12 Jam lamanya berada di tengah laut yang begitu luas. Tak sabar untuk menyapa surga yang bernama Balabalakang itu. Dan akhirnya jam menunjukkan pukul 9 malam. Sampailah di sebuah pulau tempat saya untuk melepaskan rasa letih. Walau kami tidak bisa melihat langsung keindahannya, saya tetap bersyukur karena telah sampai di pulau tersembunyi ini. Sambutan yang begitu hangat oleh warga sekitar yang mendiami pulau yang bernama Samataha ini.

Wefie di jembatan pantai pulau Samataha.

Waktu semakin larut, angin laut menusuk hingga tulang dan hujan pun turun di tengah terlelapnya diri dalam tidur. Mentari menunjukkan sinarnya perlahan demi perlahan. Saya pun langsung mencuri waktu ke pesisir Pantai Samataha, Walau awan menutupi matahari pagi ini. Saya masih bisa dapat menikmati alam yang indah ini. Awan semakin membuka dan memperlihatkan sang surya, beberapa teman pun memulai pagi hari dengan menikmati air laut Samataha yang jernih. Tak mau kalah pun, saya pun ikut terjun dan menyapa karang-karang indah dan ikan-ikan kecil.

Waktu menunjukkan pukul 10.30 WITA, perjalanan pun dimulai untuk mengeksplore keindahan Kep. Balabalakang. Pulau pertama kami adalah Sumanga, sebuah pulau tak berpenghuni yang menyimpan keindahan yang sungguh menakjubkan dengan pantai pasir putih dan tak kalah pula dengan karang yang indah.

Pulau Sumanga dari kejauhan.

Wefie bareng di Pulau Sumanga

Karangnya masih subur nih guys

Setelah itu kami menuju ke pulau selanjutnya yakni Anak Sumanga yang kali ini pulau kecil dan tidak berpenghuni. Lokasinya di belakang pulau Sumanga. Namun, untuk menuju ke pulau ini butuh banget adrenaline tinggi. Soalnya menuju ke pulau tersebut, kita akan melewati pertemuan dua arus yang menggelikan. So, siap2 antimo yah gaez..... Walau kita tidak dapat menikmati keindahan karang disini kami cukup puas dengan indahnya perpaduan warna laut biru muda dan biru tosca. Serta juga pasir yang super halus kayak tepung terigu.



Hari semakin siang matahari seperti diatas kepala. Sinar yang begitu terik dan membuat saya dan teman-teman pun bergegas untuk menuju ke sebuah pulau terakhir yang akan kami kunjungi yakni Popongan, sebuah pulau yang berpenghuni dan satu-satunya pulau di Kep. Balabalakang yang memiliki sinyal telkom untuk menelpon (wartel). Keindahan pulaunya juga tak kalah dengan lainnya dan kalian akan di sambut dengan kelincahan para penduduk dari pulau ini.





Tepat pukul 4 sore, kami pun kembali ke Samataha untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pulang esok hari. Cukup singkat bagi kami untuk mengeksplore keindahan Balabalakang. Berat bagi saya untuk meninggalkan pulau ini. Semoga dilain waktu saya dapat menyapa kembali Surga yang tersembunyi ini. Sungguh sebuah pengalaman yang berharga dan tidak akan mungkin akan saya dapatkan di tempat lain.

Salam pesona Balabalakang untuk Indonesia...

No comments

Powered by Blogger.